Saya rindu, Kamu.

Saya rindu kamu. Saya rindu tawa renyah kamu, alis kamu yang bertemu ketika berpikir, senyuman kamu yang khas dengan mata yang hilang dikarenakan terlalu sipit, muka kamu ketika bingung, rengekan kamu memohon agar saya tidak lagi merajuk dengan sikap cuek kamu yang selalu saja tak bisa hilang, nyanyian yang selalu kamu lantunkan mengiringi tidur saya, kata - kata cuek namun manis yang kamu utarakan, cara kamu mencintai saya dalam kediaman yang kita ciptakan sendiri, gugupnya kamu ketika mengungkapkan bahwa kamu menyukai saya, saya rindu semuanya.

Bahkan saya rindu dibuat mencinta setengah mati karena kelakuan kamu yang aneh, menyebalkan, namun luar biasa ajaib membuat segenap hati saya menginginkan kamu. Bila diingat kembali, semua memang manis. Sangat manis hingga tak bisa saya lupakan. Tak bisa saya buang dari otak saya. Dan, tak bisa saya gantikan dengan kenangan lain, yang bahkan lebih manis. Ya, semua yang tertinggal membuat saya terus mengingatnya, tersenyum, bahagia entah karena apa.

Tapi,
Saya juga masih ingat. Bagaimana kamu mengabaikan saya secara tiba - tiba. Menjawab diam semua pesan dan telepon dari saya. Membiarkan saya berlabuh pada kegusaran tanpa henti. Kamu tahu? Pada saat itu saya benar - benar tak lagi menemukan diri saya, setiap hari yang saya pikirkan adalah kesalahan sebesar apakah yang telah saya lakukan kepada kamu hingga kamu sampai hati membuat saya kehilangan arah. Bahkan untuk memikirkan diri sendiri, saya tidak punya waktu. Kamu terlalu menyita waktu saya. Namun entah mengapa saya begitu bahagia. Padahal pada saat itu banyak teman - teman saya mengatakan bahwa kesalahan bukan berada pada saya, tapi pada kamu. Entah dari mana saya harus mengambil sudut pandang, yang jelas saya hanya mampu tersenyum menanggapinya. Saya percaya kamu, saya percaya kata - kata kamu yang mengatakan bahwa kamu menyayangi saya, dan kamu tidak akan meninggalkan saya hanya demi orang lain yang bahkan lebih cantik dari saya. Namun ternyata terlalu mempercayai seseorang itu merupakan sebuah kesalahan juga. Teman - teman saya benar, kamu salah. Kamu meninggalkan saya demi orang lain. Semua tiba - tiba menjadi sakit. Boleh bilang kalau saya kecewa? Boleh bilang kalau saya sakit hati? Ya, hati saya sakit. Terlampau sakit hingga saya tak mampu menangis lagi. Kamu dengan dia, kamu tidak perduli perasaan saya. Kamu bahkan memutuskan semuanya terlalu mudah. Seakan saya itu bukan siapa siapa. Saya sempat berpikir sehina apakah diri saya, sampai kamu tega meninggalkan saya dengan cara yang begitu. Kepercayaan diri saya terjun bebas ke titik minus. Rasanya seluruh tubuh saya kekurangan darah, ujung kaki hingga ujung kepala saya beku. Saya tidak mengerti mengapa, sungguh. Dan kamu dibuangnya. Mungkin kamu kaget, saya pun begitu. Tenang, kamu tidak pernah sendiri. Walaupun kamu begitu, saya tidak dendam. Bahkan nama kamu masuk dalam daftar orang yang saya pinta pada Tuhan selalu dikelilingi kebahagiaan. Barakallahu, kamu :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar